GAGAKRIMANGFM.ID - Musim tanam tembakau tahun 2025 di Kabupaten Blora menjadi ujian berat bagi para petani. Cuaca yang tak menentu membuat proses tanam jauh dari ideal. Alih-alih mendapatkan sinar matahari secara optimal, lahan tembakau justru terendam air akibat curah hujan yang masih tinggi.
Fenomena ini dipicu oleh musim kemarau yang tak seperti biasanya. Tahun ini, kemarau disebut sebagai kemarau basah karena hujan masih kerap mengguyur wilayah pertanian. Padahal, tanaman tembakau membutuhkan cuaca panas dan kering untuk menghasilkan batang dan daun berkualitas tinggi.
Suwarno (40), petani tembakau asal Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora mengaku harus bekerja ekstra keras akibat kondisi ini. Tanaman tembakau miliknya yang baru berusia sebulan terendam banjir setelah hujan deras mengguyur selama dua hari berturut-turut.
“Beginilah kondisinya. Mau bagaimana lagi. Kami cuma bisa sabar,” ujar Suwarno dengan nada pasrah saat ditemui, Minggu (10/08/2025).
Akibat terendam air, pertumbuhan tembakau menjadi tidak maksimal, bahkan banyak yang mati. Suwarno terpaksa menanam ulang hingga tiga kali. Setiap kali penanaman ulang, biaya dan tenaga yang dikeluarkan semakin besar, membuat kerugian pun terus bertambah.
“Kalau dihitung-hitung, modal yang keluar sudah banyak. Tapi kalau tidak tanam lagi, kami sama sekali tidak punya harapan panen,” ungkap Suwarno.
Meski kondisi belum membaik, Suwarno tetap berharap cuaca segera kembali normal.
“Kalau hujan berhenti dan tanah kering, kami bisa mulai tanam lagi dengan harapan hasilnya lebih baik,” tambah Suwarno.
Suwarno mengaku khawatir jika curah hujan tinggi terus berlanjut, kualitas dan kuantitas hasil panen tembakau akan menurun drastis sehingga berimbas pada pendapatan mereka.
“Kami khawatir kalau hujan terus begini, kualitas dan jumlah panen tembakau akan turun, pendapatan kami juga pasti berkurang,” pungkasnya.

.jpg)
.jpg)
Komentar0